Salahkah ketika orang Kristen di Indonesia menyebut Tuhan dengan kata “Allah”?

Tulisan ini pernah saya publish pada tanggal 1 Februari 2013 di sebuah blog yang sudah saya deactivate. Karena fenomena ini kembali muncul ke permukaan, saya rasa saya perlu menaikkan kembali tulisan ini ke blog saya.

Empat tahun yang lalu, ketika saya aktif-aktifnya debat kusir masalah agama di Facebook, saya bertemu dengan banyak debater Kristen dari berbagai aliran pengajaran. Mulai dari Kharismatik, Protestan, Advent, SNM, Pseudo-Christian, hingga teman-teman Judaism.

Seringkali, kami tidak hanya berbagi pengetahuan untuk counter attack debaters lawan, tapi kami juga saling berdiskusi mengenai Alkitab dan perbedaan doktrin diantara kami. Positifnya, kami jadi makin rajin buka Alkitab dan cari referensi dari berbagai sumber..negatifnya…kalau kita bingung dan iman kita justru malah goyah karena kita nggak mendapat pengertian yang benar.

Di ranah pribadi, melalui diskusi 4 mata yang melibatkan jari-jari tangan (baca: chatting), saya sempat bertukar pendapat dengan seseorang dari Sacred Name Movement, yang mana dia mengajarkan bahwa nama Tuhan yang benar itu adalah Yahweh. Penggunaan kata “Allah” yang dipakai oleh orang Kristen di Indonesia ini adalah sebuah kesalahan besar. Bahkan, ia mengirimkan 2 Kitab Suci ILT (Indonesian Literal Translation) untuk saya pelajari dan gunakan. Satu kitab masih saya simpan saat ini, yang satunya sudah berpindah tangan ke mantan pacar saya hahaha…entah dimana kitab itu sekarang….

Saya akui, seorang yang mengenalkan sebutan “Yahweh”, “Elohim”, “Yeshua”, adalah orang yang luar biasa mengagumkan pengetahuannya akan Alkitab. Boleh dibilang, saya sempat tertarik dengan pengajarannya. Waktu itu, komunitas mereka menyebut sesama orang Kristen yang menggunakan kata “Allah” sebagai “Kristen Muslimin.” Makin lama, perdebatan dalam komunitas Kristen semakin tajam karena hal ini. Itulah sebabnya saya menuliskan di blog saya tentang apa yang saya dapatkan tentang pengajaran tersebut.

Di bawah ini adalah kutipan dari blog saya yang bisa jadi sebuah referensi bagi Anda yang memerlukan penjelasan mengenai topik nama “Allah”. Diedit seperlunya dari postingan saya yang tersembunyi oleh sistem 🙂

Salahkah ketika orang Kristen di Indonesia menyebut Tuhan dengan kata “Allah”?: Menghadapi sebutan “Kristen Muslimin”

Hahaha….berbagai pertanyaan langsung muncul dari beberapa teman ketika saya hendak menyampaikan topik ini ke publik. Terus terang saja saya baru saja menemukan sebuah pengertian yang Roh Kudus bukakan dari sesuatu yang sangat sederhana. Selama beberapa Minggu, tanpa ada seorangpun yang mengetahui, otak saya bekerja cukup berat untuk memikirkan hal ini. Saya berulangkali meminta kepada Roh Kudus untuk membukakan pengertian yang benar kepada saya. Beberapa kali saya menemukan saya terjebak pada berbagai pertentangan doktrin yang bisa saja membuat saya kehilangan pengenalan saya akan TUHAN. Semua pertanyaan yang timbul tentang Tuhan menjadi ambigu dan penuh pertentangan bagi saya dan satu kasus semakin melebar ke kasus yang lainnya tanpa saya menemukan jawaban logis atas semua pertanyaan yang timbul di benak saya. Bayangkan betapa susahnya kita berdoa.. jika kita terbiasa menyebut “Allah Bapa” dan untuk merasa layak masuk hadirat-Nya kita harus mengganti kata “Allah” dengan “Elohim.”

Sebuah hal yang sederhana Roh Kudus pakai untuk membukakan pikiran saya tentang pertentangan “kata atau nama Allah” yang selama ini timbul di pikiran saya. Saya mengalami pertobatan total dan menerima Tuhan Yesus secara pribadi pada tahun 2003 di sebuah gereja Kristen. Hati dan roh saya mengalami perjumpaan dengan Tuhan secara pribadi ketika sebuah lagu pujian “Allah mengerti Allah peduli” dinyanyikan di mimbar gereja. Sehari sebelum saya memutuskan untuk menulis catatan ini, saya hendak menyampaikan kesaksian saya ini di status Facebook saya, namun saya urungkan karena ketika saya menulis kesaksian saya, tiba-tiba pikiran saya dipenuhi berbagai pertanyaan mengenai kata “Allah” yang sudah selama beberapa bulan saya hindari pemakaiannya.

Ketika seorang Kristen menyebut “Allah” saat mereka memanggil Tuhan yang mereka sembah, mereka menyebut “common name/gelar” dari Tuhan dari bahasa yang mereka ketahui. Sedangkan ketika seorang Muslim menyebut “Allah” dalam penyembahan mereka, mereka menyebutnya sebagai “proper name/nama pribadi” dari Tuhan yang mereka sembah.

Ketika doktrin “Allah = nama sesembahan orang Muslim” runtuh maka tidak ada lagi istilah “Kristen Muslimin” yang bisa dituduhkan oleh oknum pemberita SNM bagi orang-orang Kristen di Indonesia yang menyebut Tuhan dengan kata Allah.
Dualitas makna kata “Allah” di Indonesia

Bahasa adalah sarana untuk berkomunikasi. Dalam sebuah bahasa, apakah tidak ada kemungkinan satu kata mempresentasikan dua hal yang berbeda?  Semua bahasa bergantung pada proses untuk menghubungkan isyarat dengan makna tertentu. Uniknya di Indonesia, kata Allah menunjuk kepada dua pengertian yang berbeda. Bagi umat Muslim, kata Allah menujuk pada nama sesembahan mereka, sedangkan bagi umat Kristen, Allah menunjuk pada gelar/sebutan yang sepadan dengan Tuhan.

Bukan hanya kata “Allah” namun beberapa kata di Indonesia memiliki dualitas makna yang memiliki sifat yang mirip dengan kata “Allah”. Sebagai contoh, apabila Anda datang ke pedesaan dan bertemu dengan orang-orang desa, Anda akan menemukan banyak orang menyebut “sepeda motor” dengan kata “Honda”. Padahal seperti kita tahu, “Honda” adalah merek, dan bisa kita sebut “Honda” adalah proper name sedangkan “sepeda motor” merupakan sebutan dan “sepeda motor” adalah general name untuk kendaraan bermotor beroda dua ini. Masih ada lagi, banyak orang menyebut “air mineral kemasan” sebagai “aqua” entah apapun mereknya. Padahal, “Aqua” ini adalah sebuah merek dagang dari salah satu “air mineral kemasan”. “Aqua” adalah proper name sedangkan “air mineral kemasan” adalah “general name”.

Sekalipun orang-orang desa menyebut “sepeda motor” sebagai “honda” tapi apakah yang mereka pikirkan dan maksudkan adalah sepeda motor bermerek Honda? Belum tentu. Dari sini kita bisa melihat memang ada dualitas makna dari kata “Honda” yang ada di daerah pedesaan di Indonesia.

Ini juga yang terjadi dengan makna kata “Allah” di Indonesia. “Allah” yang bagi umat Muslim adalah “proper name” dari sesembahan mereka, adalah kata yang menunjuk “general name” Tuhan bagi umat Kristen di Indonesia. Apakah jika seorang Kristen menyebut “Allah” dalam doanya kemudian orang ini menunjuk kepada “Allah” orang Islam? Tentu saja tidak! Tidak ada kristen muslimin! Tidak ada orang kristen yang menyembah “Allah” yang dimaksud oleh orang Islam.

Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung dalam Yesaya 42:8 juga menunjukkan bahwa terjemahan TUHAN akan lebih tepat jika tetap menggunakan YHWH.

Di dalam Bahasa Arab, kata Allah memang tidak bisa berbentuk plural, namun di dalam bahasa Indonesia, kata Allah bisa berbentuk plural. (allah-allah). Kata “Allah” yang dipakai di dalam Bahasa Indonesia kita bukan kata yang diambil dari Nama Allah yang disembah oleh umat Muslim, namun kata “Allah” yang dipakai oleh umat Kristen di Indonesia adalah sebuah KATA BARU yang menunjuk pada “Al-Ilaah” dalam Bahasa Arab.

Kata “Al-Ilaah” di Arab memang tidak lazim berubah bentuk menjadi “Allah” dalam Bahasa Arab, namun menjadi lazim digunakan di Indonesia. Inilah salah satu kasus linguistik yang unik yang pada akhirnya menunjukkan bahwa “Allah/allah” bukanlah proper name bagi orang Kristen di Indonesia, seperti halnya “Honda” yang tidak menjadi proper name bagi masyarakat pedesaan.

“Allah” sesungguhnya proper name atau general name?

Salah satu ayat yang dipakai oleh para pemberita SNM untuk menyudutkan umat Kristen yang lainnya biasanya adalah ayat ini:  “Dalam segala hal yang Ku-firmankan kepadamu haruslah kamu berawas-awas; nama ilah lain janganlah kamu panggil, janganlah nama itu kedengaran dari mulutmu.” (Keluaran 23:13).”

Sekarang mari kita berpikir dengan logika. Apakah ayat ini menyatakan bahwa nama ilah lain sama sekali tidak boleh diucapkan dari mulut kita? Jika kita melihat ayat ini sekilas memang benar. “Allah” adalah nama ilah lain bagi setiap orang Kristen dan menurut ayat ini kita tidak boleh mengucapkan nama “Allah”. Tapi ingat…bagi orang Kristen di Indonesia, “Allah” bukanlah “nama ilah” tapi merupakan “sebutan/gelar” yang sepadan dengan “Tuhan”.

Seandainya saja “Allah” memang sebuah proper name, bagaimana dengan para pengajar agama yang hidup saat ini dan harus mengajarkan tentang agama lain? Jika ditilik dari kamus strong KJV, maka kita akan melihat hal seperti ini:

And in all [things] that I have said <0559> (8804) unto you be circumspect <08104> (8735): and make no mention <02142> (8686) of the name <08034> of other <0312> gods <0430>, neither let it be heard <08085> (8735) out <05921> of thy mouth <06310>.

“mention” <02142> (yang dalam terjemahan Indonesia: “panggil”) berasal dari kata zaw-kar’ yang memiliki arti to remember, recall, call to mind. Ini lebih dalam maknanya dari sekedar memanggil. Artian ini lebih mengacu pada “mengingat, merenungkan. memasukkan dalam pikiran”.

Terjemahan FAYH lebih mudah dipahami untuk ayat ini:   “Jangan lupa menaati semua petunjuk ini. Dan ingatlah, jangan sekali-kali berseru kepada allah lain yang mana pun.”

Bedakan antara sekedar menyebutkan nama ilah lain atau seruan yang memanggil nama ilah lain.

Tentang “Kata Allah hanya milik Islam”, saya hanya ingin mengatakan, bahwa kata Allah telah muncul jauh sebelum Islam berdiri, dipakai oleh orang Nasrani Nestorian, dan orang-orang Quraish sebagai sesembahan berhala mereka. Perlu dipertanyakan origin pemakaian kata Allah oleh Muhammad. Kata Allah, jika ternyata berasal dari penggunaan kata Allah oleh para Nasrani, maka sebenarnya kami, umat Kristen yang bilang Allah hanya milik Kristen. (http://www.indoforum.org/showthread.php?t=71994)

Sebuah catatan Terjemahan Alkitab bahasa Arab pertama kalinya dibuat pada sekitar abad ke-9. Tidak ada kata “Allah” ditemukan di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Ketika kekuatan politik islam menjadi dominan, orang-orang dipaksa untuk menggunakan nama Allah untuk Tuhan atau diperhadapkan dengan konsekuensi hukuman oleh penguasa Muslim yang militan. Karena kekuasaan Islam yang dominan, maka kata “Allah” mau tidak mau menjadi general/common name untuk Tuhan. Penerjemah Alkitab mengalami tekanan dan mereka menyerah dengan tekanan itu sehingga menggantikan YHWH dengan Allah dalam Alkitab Berbahasa Arab, namun mereka tetap menyadari bahwa “Allah” bukanlah nama pribadi Tuhan dalam bahasa Ibrani, atau Sang Pencipta Alam Semesta. Mereka tetap menyadari bahwa Allah yang dimaksud dalam Quran dan dalam terjemahan Alkitab mereka adalah “Allah” yang berbeda. (http://www.letusreason.org/islam6.htm).

Jika ternyata kata “Allah” berasal dari nama dewa orang Quraish (perlu diingat, Muhammad pernah menjadi seorang Quraish), nah, itu yang perlu dipertanyakan. Perlu dipertanyakan pula, mengingat sangat banyak fakta sejarah pra-Islam yang telah mengenal kata “Allah” apakah benar bahwa “Allah” merupakan sebuah “proper name” atau hanyalah sebuah “general name” dari sesembahan suku-suku yang ada di arab pra-Islam. (http://www.indoforum.org/showthread.php?t=71994)
Kesimpulan Akhir

Apakah Tuhan tidak berkenan ketika seseorang menyebut-Nya dengan Allah? Kuncinya ada di interprestasi otak kita. Jika pengetahuan kita selama ini menganggap “Allah” adalah proper name dari Tuhan yang disembah oleh umat Islam maka kita menyatakan bahwa Quran adalah benar dan pribadi Allah yang dikenalkan oleh Muhammad memang benar-benar eksis sebagai salah satu dari banyak ilah di dunia ini. Tetapi jika pengetahuan yang tertanam di otak kita menganggap kata “Allah” adalah sebuah sebutan bagi Tuhan secara umum, maka Tuhan tidak membatasi diri-Nya dengan batasan-batasan “proper/general name” yang dibuat oleh para ahli bahasa.

Bukankah Tuhan menyatakan dirinya kepada setiap bangsa dan bahasa?

Masih ingat kisah Paulus di Athena? “Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah (Elohim) yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. Kisah Para Rasul 17:23.

Seperti halnya memperkenalkan merek sepeda motor lain kepada masyarakat pedesaan yang masih menyebut “honda” untuk setiap sepeda motor yang mereka temui, demikian pula seharusnya para pemberita SNM (Sacred Name Movement) menyadari adanya dualitas makna kata dari kata “Allah’ yang hadir di Indonesia ini. Perkenalkanlah siapa “Allah” yang disembah oleh orang-orang Kristen di Indonesia ini dengan cara yang baik dan jangan menghakimi bahwa orang Kristen yang menggunakan kata “Allah” sebagai “general name” adalah Kristen muslimin atau Kristen penyembah Allah orang Islam. Restorasi Nama YHWH tidak akan berjalan mulus jika para pemberita menyudutkan orang-orang Kristen dengan menyebut mereka sebagai Kristen Muslimin atau Kristen Penyembah ALLAH.

Saya sendiri mengenal Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan yang benar oleh kasih karunia-Nya melalui sebuah perjumpaan dengan Tuhan secara pribadi ketika saya masuk di sebuah gereja dan waktu itu pujian “Allah mengerti Allah peduli” sedang dinyanyikan. Keterlibatan terminologi “Allah” dalam kehidupan rohani Kristen di Indonesia tetap menunjuk kepada Tuhan yang disebutkan dalam Alkitab, bukan tuhan dalam Quran.

Tuhan kita adalah Tuhan yang maha mengerti. Ia adalah Tuhan yang kreatif. Dengan kasih karunia-Nya yang besar, Ia mengerti setiap kata dan bahasa yang kita ucapkan dihadapan-Nya. Ingatlah bahwa TUHAN melihat hati manusia. Orang Kristen di Indonesia yang menyebutkan Allah dalam doa-doanya tidak menyembah kepada Allah umat muslim, tapi kepada TUHAN yang disebutkan dalam Alkitab. Oleh karena dualitas makna bahasa, kata “Allah” bagi umat Kristen di Indonesia tidak menunjuk kepada “ilah lain” namun menunjuk kepada Tuhan yang telah menyatakan diri-Nya sebagai Yesus Kristus.

Jangan persalahkan orang Kristen yang menyembah Tuhan dan menyebut Dia dengan Allah karena Allah adalah general name bagi umat Kristen secara umum di Indonesia. Sekalipun ensiklopedi menyatakan bahwa “Allah” adalah proper name namun hingga saat ini, TUHAN, Tuhan Yesus Kristus, masih menyatakan karya-Nya yang luar biasa dahsyat bagi orang-orang Kristen yang menyebut TUHAN dengan general name “Allah”. Jika Tuhan memang tidak mengizinkan kata “Allah” untuk menyebut Diri-Nya, Ia tidak akan menyatakan Diri-Nya kepada setiap orang yang berseru kepada-Nya dengan menggunakan sebutan tersebut, namun karena Ia mengetahui hati manusia, Ia hadir dan menyatakan Diri-Nya.

Apa yang saya bagikan berikut ini adalah hasil dari pergumulan saya secara pribadi dengan Tuhan dan saya tidak memaksakan Anda yang membaca untuk setuju dengan apa yang tulis dan saya pun secara terbuka menerima koreksi jika ada kesalahan yang saya buat melalui tulisan ini.

Blessings,
NJ ^.^v

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *